Masyarakat Batak didalam Sejarah Perkulian/Buruh di Perkebunan Deli

Masyarakat Batak didalam Sejarah Perkulian/Buruh di Perkebunan Deli

Perkebunan yang tersebar di Sumatera Utara merupakan suatu kebanggaan Provinsi Sumatera Uatara yang menjadi suatau salah satu factor pendorong perkembangan perekonomian di Sumatera Utara baik sekarang maupun sebelumnya yang berawal pada tahun 1863 pada saat Sumatera Utara masih dibawah naungan Kesultanan Deli atau “Sumatera Timur”. Faktor wilayah Sumatera timur yang sangat strategis dan mempunyai tanah yang subur dan memiliki ilklim yang sangat mendorang dalam segi pertanian dan perkebunan yang diakibatkan karena wilayah Sumatera terletak di antara deretan bukit barisan.

Sejarah perkebunan Deli dimulai ketika langkah kerja Jacobus Niensuys dan para pionir pengusaha perkebunan yang pertama kali menggarap atau membuka wilayah perkebunan di Sumatera Utara. Sejak awal dimulainya perkebunan ini menunjukkan kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat dilihat dari hasil perkebunan tersersebut yang pada saat itu menghasilkan tanaman tembakau ditanah deli yang dirintis oleh

Jacobus Niensuys dan terbukti pada saat itu tembakau yang dihasilkan merupakan produk yang sangat menguntungkan di pasar perdagangan di Eropa yang kemudian menjadikan Deli penghasil termasyhur di dunia kawasan produksi daun pembungkus cerutu. Usaha Jacobus Niensuys terus berkembang mulai pada saat hasil perkebunan yang dibukanya sudah mulai menampakkan hasil dan tidak banyak telah masuk kepasaran perdaganan Eropa yang dibuktikan sejak pada tahun 1869 Jacobus Niensuys mendirikan perusahaan perusahaan Deli Maatschappij yaitu suatu perseroan terbatas yang beroperasi di Hindia Belanda (Breman 26:1997)

Semakin berkembangnya suatu perkebunan maka semakin banyak yang akan dibutuhkan dalam pengelolahan dan pemanfaatan sesuatu yakni dalam kelancaran perkebunan tersebut seperti yang dituliskan oleh (28:1997) bahwa kemajuan pesat suatu perusahaan datu perkebunan menyebabkan terjadinya perekrutan tenaga kerja yang sangat besar untuk dijadikan sebagai pekerja dalam mengelolah perkebunan tersebut. Pernyataan diatas menerangkan bahwa dalam jangka waktu yang relatif pendek bahwa pendiri atau pengusaha perkebunan yang berada di Deli terkhusus Jacobus Niensuys berusahan untuk memenuhi semua permintaan yang harus dilakukannya yakni untuk memperlancar perkembangan perkebunan yang dibuka sejak lama tersebut. Perkembangan perkebunan para pengusaha Eropa yang berada di Deli tentunya membutuhkan tenaga kerja yang relative banyak karena dilihat dari luas dan banyaknya permintaan pasar yang harus dipenuhi, namun hal itu menjadi faktor yang sangat sulit dihadapi oleh para pegusaha perkebunan karena pada saat itu untuk mendapatkan tenaga kerja yang harus dipekerjakan diperkebunan sangat sulit ditemukan dan langkah hal ini merupakan akibat dari factor wilayah dimana perkebunan yang dimiliki para pengusaha perkebunan orang Eropa tersebut berada diwilayah diantara dua etnis yaitu wilayah suku Batak dan Melayu, dan hal ini merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh seperti halnya orang melayu dan orang batak tidak ingin bekerja di perkebunan beranggapan bahwa mereka tidak mau menjadi budak ditanahnya sendiri (A.LauraStoler, 39:1995) namun disamping itu walaupun pemikiran itu ada dalam pikiran para masyarakat orang Batak dan orang Melayu tidak sedikit yang mau bekerja diperkebunan pada saat itu seperti halnya orang batak dan melayu yang berasal dari daerah pesisir sudah sejak semula dibukanya perkebunan telah mau bekerja yakni hanya membantu-bantu tuan kebun untuk membuka rimba untuk perlusan daerah perkebunan dan mereka berdiam dikampung-kampung areal perkebunan itu sendiri dan mereka yang pertama dikerahkan untuk menebang pohon-pohon yang tumbuh di daerah yang akan ditanami tanaman tembakau (Bremen 98:1997).

Namun hal ini sangat berbeda bahwa yang akan dicari oleh tuan kebun bukanlah tenaga kerja yang telah dilakoni oleh orang-orang batak dan melayu yakni para kuli-kuli yang ingin bekerja dan tawaran upah yang sangat rendah, dan pada akhir abad ke-19 para pengusaha perkebunan Deli menerima pekerja Tionghoa hal ini dilakukan dan dicari secara khusus karena dilihat dari kerajinan dan keterampilan mereka, (Bremen 47:1997) dan tidak hanya pekerja dari Tionghoa pengusaha perkebunan juga merekrut para pekerja dari Jawa yang tidak terlepas dari tahun ketahun orang jawa selalu menjadi perolehan tenaga kerja yang sangat mudah dijumpai oleh para tuan kebun. Hal ini merupakan suatu hal yang sangat signifikan didalam permasalahan yang dihadapi oleh perkebunan di Deli pada saat itu yang muncul dari masyarakat batak dan melayu dimana sebagai masyarakat yang tanah kelahirannya di Deli.

Perkembangan perkebunan dari tahun ketahun tidak lepas dari permasalahan dari sejarah para tenaga kerja (kuli, buruh pekerja ) yang bekerja di perkebunan tersebut seperti halnya masyarakat orang batak yang telah menjadi pekerja di perkebunan walupun tidak sebagai kuli melainkan sebagai Bodyguard (Algojo) yang kerjanya hanya untuk menangkap dan menghukum para kuli yang berkeinginan melarikan diri disamping itu orang batak juga di manfaatkan sebagai pengawas (Mandor) didalam perkebunan dan demikian juga orang melayu juga mendapatkan hal yang sama (“Bremen, 33:1997). Orang batak memiliki kebudayaan yang sangat kental bagi kehidupan sehari-hari yang memiliki kepemilikan komunal dan tetap tetap melestarikan secara kuat tradisi kebudayaan dan adapt secara komunal (A. Laura Stoler 8:1995) hal ini lah yang merupakan kendala bagi para pengusaha perkebunan orang eropa untuk menempatkan orang Batak sebagai kuli sepertihalnya orang Jawa dan Cina.

Dari beberapa pernyataan diataslah yang menjadi suatu ketertarikan penulis untuk lebih lanjut untuk mengetahuai bagai mana Orang Batak didalam sejarah Perkulian di Perkebunan Deli dan walaupun penulis dapat menayatakan bahwa data dan informasi tentang tulisan mengenai Orang batak didalam sejarah perkebunan Deli, dan tulisan ini hanya sebagai jembatan kepada penulisan maupun penelian berikutnya

Sejarah dari perkebunan di Deli “Sumatera Timur” bukakanlah hal yang sangat asing untuk perjalanan sejarah Sumatera Utara disamping mempunyai peranan dalam perkembangan dari pembangunan Sumatera Utara terkhususn kota Medan. Namun disamping itu perangan dari pada buruh, kuli, maupun para tenaga kerja yang berkerja pada perkebunan yang ada di wilayah Deli pada saat itu yang tidak akan bias dipisahkan dari sejarah perkembangan perkebunana tersebut, sperti halnya dalam proses perjalanan dan reproduksi suatu perusahaan besar sangatlah membutuhkan karyawan yakni untuk memperlancar dalam suatu kenirja perusahaan tersebut, demikian pula Perkebunan Deli pada saat itu sangat membutuhkan buruh, kuli dan pekerja yakni untuk dipekerjakan di perkebunan yang dimiliki para tuan kebun tersebutt. Menurut Pelzer, 54:1885 dikatakan penenaman tembakau terutama tembakau pembungkus cerutu membutuhkan banyak tenaga kerja dan sebagaimana para pengusaha perkebunan lainnya diberbagai daerah lainnya yang juga membutuhkan pekerja untuk dipekerjakan. Dari pernyataan diatas bahwa pada kurun waktuk yang relative singgkat pada awal dibukanya pekebunan di Deli telah mengalami perkembangan dan perluasan wilayah perkebunan yang sangat luan sehingga menuimbulkan perlunya para pekerja yang cukup banyak untyuk dipekerjakan sebagai , buruh, kuli, mandor, algojo dan lainnya sebagai salah satu tuntutan dari perkebunan tersebut.

Hal ini merupakan suatu masalah yang sangat sulit dihadapi para pengusaha perkebunan di Deli dilihat dari susahnya mencari tenaga kerja diwilayah sekitar perkebunan tersebut karena para tuan kebun telah memahami suatu penduduk dari suatu daerah yang dimana daerahnya jarang ada penghuninya walupun memilki wilayah yang sangat luas serta bisanya pekerjaannya berhuma, berpeindah-pindah dan relatif bekerja malas. Namun tidak jarang bahwa ada juga yang telah berhasil direkrut para tuan kebun untuk bekerja di perkebunan dari masyarakat diwilayah perkebunan yang tempat tinggalnya di dekat perkebunan tersebut seperti halnya orang batak telah bekerja membantu-bantu dipara tuan kebun serta digunakan sebagai pembabat dan pembuka lahan baru dalam perluasan wilayah perkebunan. Orang batak dan melayu dari daerah pesisir sudah sejak semula membantu tuan kebun membuka rimba mereka berdiam diperkampungan dala areal perkebunan itu sendiri, dan merekalah yang pertama kali yang dikerahkan untuk menebangi pohon dan melakukan tugas lain yakni membersihkan lahan, (Bremen, 98:1997). Disamping itu juga orang bataj juga di tempat kan sebagai mandor perkebunan dan Bodyguard (Algojo) yakni sebagai pengawas para kuli dan menangkap kuli yang mencoba melarikan diri karena ketidak tahanan mereka yang dipaksa untukbekerja (Majalah Tatap 12 :2008) dari urain diatas penulis menyimpulkan bahwa orang batak mempunyai peranan dalam perkebunan Deli.

Walupun telah orang batak ada yang bekerja di perkebunan tidaklah sebanyak kuli-kuli yang sengaja didatangkan dari Jawa dan Cina yang disebut juga Kuli Kontrak pada saat itu itu dilakukan diakibatkan karena penduduk pribumi seperti orang batak dan melayu tidak dapat dibujuk atau dipaksa oleh para pejabat local atau tuan kebun agar mau bekerja untuk perkebunan yang dikelolah oleh para pengusaha eropa dan ditempatkan sebagai kuli (Bremen, 41:1997

Tinggalkan komentar

Filed under sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s